sempat berkunjung ke Kawah Ijen pada Kamis (12/5/2022). Jika hendak naik kendaraan pribadi menuju Kawah Ijen, berikut beberapa tipsnya: 1. Berangkat maksimal pukul 01.00 WIB Petugas Snooze Hostel tempat Kompas.com menginap bernama Dinda mengatakan, kebanyakan tamu yang berangkat ke Ijen berangkat pukul 01.00 WIB.
Kamimelangkah ke luar mobil, kami ditampar oleh suhu dingin yang membeku. Dengan suhu sekitar 10 ° C dan bagian atas meja, saya tidak yakin saya bisa melakukan pendakian ini. Meskipun demikian, saya mendapat pakaian dan perlengkapan tambahan yang diambil dari pemandu kami dan mulai 3 km ke puncak Kawah Ijen.
8lbVMvz. â Kawah Ijen merupakan obyek wisata yang kerap dijadikan destinasi utama oleh para wisatawan yang berkunjung ke Jawa Timur. Terlebih, wisatawan yang gemar berwisata alam dan fotografi. Destinasi tersebut memiliki keindahan yang unik dan menakjubkan. Berkat kelebihan ini, Kawah Ijen tidak hanya dikenal oleh wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara. Sebelum pandemi Covid-19 merebak, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kawah Ijen bisa mencapai ribuan orang setiap satu pesona Kawah Ijen yang menjadi âsajian utamaâ bagi wisatawan adalah lidah-lidah api biru atau blue fire yang berkobar dari celah-celah batuan dinding kawah. Blue fire adalah fenomena alam unik yang terjadi akibat reaksi pembakaran belerang. Sebagai informasi, Kawah Ijen juga merupakan wilayah penambangan belerang. Karena berupa danau kawah aktif, Kawah Ijen kaya akan bebatuan belerang yang terbentuk dari aktivitas vulkanik Gunung Ijen. Baca juga Berburu Blue Fire di Gunung Ijen, Berikut Persiapan dan Tips yang Perlu Diperhatikan Gas belerang yang menguar dari celah bebatuan dinding kawah bersuhu tinggi hingga 600 derajat Celcius. Ketika bertemu dengan oksigen di udara, gas tersebut memunculkan penampakan seperti api berwarna biru. Fenomena alam ini hanya terjadi di Kawah Ijen dan di dapat menikmati keindahan blue fire, bahkan mengabadikannya dalam sebuah foto hanya dengan menggunakan smartphone. Namun, serangkaian upaya dan persiapan harus dilakukan terlebih dulu. Fotografer lanskap yang juga kontributor foto National Geographic Indonesia, Rendra Kurnia, memberikan beberapa tip mengabadikan blue fire menggunakan smartphone. Baca juga Menjelajah Gua Berlian, Gua Kapur Terluas Ketiga di Dunia yang Punya Interior Eksotis Belum lama ini, Rendra menerima penugasan untuk berburu foto low-light di kawasan Kawah Ijen. Tip dari Rendra merupakan hasil pengalamannya saat berburu foto low-light di kawasan Kawah Ijen dalam program Nawa Cahaya Capture Unique Lights of Indonesia yang diselenggarakan realme Indonesia dan National Geographic Indonesia. Program tersebut menantang delapan fotografer profesional, termasuk Rendra, untuk membuat karya fotografi bertema alam di kala kondisi minim cahaya menggunakan kamera realme 9 Pro+. Tip pertama adalah memperhitungkan medan dan waktu tempuh menuju lokasi blue fire. Blue fire hanya terlihat jelas pada dini hari hingga menjelang pukul WIB. Karenanya, wisatawan harus melakukan pendakian ke Kawah Ijen mulai pukul malam karena perjalanan hiking memakan waktu kurang lebih tiga jam.
Bali lebih dari sekadar pantai indah dan liburan santai. Bagi para pencinta tantangan, Bali juga menjadi titik awal petualangan ke berbagai lokasi menarik. Misalnya saja, ke Kawah Ijen, kompleks gunung api yang mengeluarkan gas sulfur dan api biru dari retakan di aktivitas ini, anda bisa mendaki Ijen dengan mudah. Paket yang anda pesan sudah termasuk sejumlah besar kebutuhan perjalanan, termasuk pemandu, penjemputan dari hotel, biaya masuk, dan izin cukup membawa peralatan pribadi, makanan, dan bersiaplah terpukau melihat pesona api biru yang abadi. Paket ini pun sudah termasuk kunjungan ke perkebunan kopi dan area air terjun, tempat anda bersantai sebelum pulang. Saksikan fenomena unik selama liburan anda ke Bali dan terkagumlah oleh api biru Ijen! Pesan pengalaman ini via Klook dan bersiaplah menikmati hiking yang mudah, bebas stres! Sementara pesona api biru manjakan mata anda kala malam, indahnya kawah Ijen memancar kala siang Jadilah saksi keindahan alam yang belum pernah anda lihat sebelumnya dalam trip ini! Visit Banyumala Waterfall if you book Ijen with sightseeing in Bali package Stop by to witness the beauty of Ulun Danu Beratan Temple as a complimentary when you book Ijen with sightseeing in Bali package Spot the beauty of North Bali mountain and take some photos if you book Ijen with sightseeing in Bali package Spend an overnight stay at a homestay with a homey and comfortable vibes Enjoy resting in this comfortable homestay before you embark on Ijen hiking in the following day The accommodation comes with a garden The bedroom of your homestay/accommodation if you book the 3D2N package. This photo is for reference only and subject to availability Ijen Crater with its breathtaking view! Have a chance to visit Tumpak Sewu Waterfall if you book the 3D2N package! Tumpak Sewu Waterfall is recognized as one of the most stunning waterfalls in Indonesia
ï»żPerjalanan ke Kawah Ijen memberi banyak pembelajaran. Tentang keberuntungan, dan juga peringatan. Ternyata benar, traveling memang tak sekadar destinasi. Dekat maupun jauh, sederhana maupun mewah, saya rasa setiap perjalanan punya makna dan pelajarannya masing-masing. Sebuah perjalanan mengunjungi Kawah Ijen yang terletak di timur pulau Jawa, seakan mengajarkan saya untuk kembali tahu diri agar tak pernah sekalipun meremehkan alam. 1. Setiap Tempat Berbeda Punya Keistimewaan, Sekaligus Risikonya Masing-Masing Saya kira, mengunjungi Kawah Ijen, sama seperti mengunjungi gunung-gunung wisata lainnya. Sebut saja Gunung Merapi, wisata Kawah Putih, Gunung Tangkuban Perahu, puncak Sikunir, atau Gunung Bromo. Tak perlu effort berlebih menaiki setapak demi setapak jalan dengan wajah riang-gembira, sambil sesekali melakukan selfie-wefie-famfie, etc. Teman saya bahkan berkata, tak ada trekking yang berarti. âCuma dua jam, kok. Habis itu, sampai.â Apalagi, bapak-bapak penjual kopi setempat juga mengatakan hal yang sama. âAh, dekat itu, Mbak. Track-nya juga jelas.â Ingatan pernah beberapa kali menjamah gunung pun rupanya membuat saya menganggap setiap tempat sama. Tapi ternyata, segala anggapan remeh itu memadai biang kekacauan saat pendakian. Lima belas menit pertama, napas saya tersengal. Sinyal yang memberi pertanda, ada yang tak beres dengan tubuh. Saya rapatkan jaket tebal, pun juga sarung tangan serta kaus kaki yang membungkus erat badan. Saya berasumsi; palinglah karena suhu dingin. 2. Apa Pun Medannya, Persiapan Tetap Diperlukan Bau basah memenuhi udara. Gerimis membuat saya beserta rombongan lain khawatir. Akankah malam ini dingin, mengingat kami tak punya tempat bermalam lain, selain mobil elf dengan kursi yang jumlahnya pas-pasan? Namun rupanya, kekhawatiran segera bisa ditepis, sebab saya justru melega, sepasang kaus kaki dan sarung tangan yang saya bawa sekenanya, sebab dipersiapkan secara mendadak, justru tak butuh teman pelapis. Saya yang kadung meremehkan bahwa perjalanan ini pastilah berlangsung aman justru membuat kesalahan fatal setelahnya tak cukup tidur, tanpa sarapan, dan cuma menyantap semangkuk mie instan di malam hari. Belum lagi, saat perjalanan berangkat, kondisi badan rupanya enggan diajak kompromi. Melihat blue fire yang tersohor itu sedang memercik dengan indahnyaâmembuat khayalan saya mengawang ketika di perjalanan. Masalahnya, karena dadakan, saya belum sempat browsingâcek lokasi. Sementara sebentar-sebentar saya sibuk beristirahat ngos-ngosan, gerombolan bule di belakang saya menyusul, lalu dengan santainya mendaki sambil memakai kaus tanpa lengan. 3. Perjalanan Akan Mengenalkanmu Pada Beragam Tipe Asli Orang Kenali, Jangan Menghakimi Tak sabar, rombongan saya satu per satu mulai meninggalkan. Sebelum mendaki, kami memang dibagi ke dalam beberapa kelompok. Saya yang mendadak harus ke kamar mandiâapalagi dalam situasi toilet mengantreâpun harus rela ditinggalkan dan jadi rombongan terakhir. Namun belum habis masa 30 menit pertama, konsep rombong-merombong, kelompok-berkelompok, bubar sudah. Kami yang sebelumnya memang tak saling mengenal terpencar. Ada yang tak sabar lalu naik sendiri atau berdua. Ada yang tertinggal di belakang, semacam saya, ada pula yang jadi penyelamat dengan menunggu yang tertinggal, lalu naik bersama-sama. Saya sendiri pasrah. Toh saya juga tidak kenal-kenal amat. Beberapa temanâyang kebetulan adalah seorang pejalanâpernah berkata âkalau kamu ingin mengenal karakter asli orang, siapa orang itu sebenarnya, ajak dia naik gunung.â Sebuah ungkapan yang telanjur judgemental memang. Sebab, menurut saya, ada banyak sebab yang mengakibatkan seseorang harus berada dalam kondisi tersebut. Mungkin saja, mereka punya tenggat, semacam target waktu pencapaian demi menakhlukan diri sendiri. Mungkin saja, dalam diri mereka ada hasrat yang menggebu-gebu untuk sampai di puncak. Atau mungkin, kecepatan berjalan mereka ya, memang sudah dari sananya secepat itu. Maka saya pun ikhlas-ikhlas saja melihat satu per satu rombongan mulai meninggalkan. Malah, saya menganjurkan agar mereka meninggalkan saya, sebab sudah kepalang tak tega jika harus membiarkan mereka mengikuti saya. Tetapi dengan alon-alon asal kelakon, menapaklah saya satu-satu. Beberapa teman, yang saya kenal mendadak, dengan sabar menunggu saya. Ada pula yang menuntun, pelan-pelan. Akibatnya, saking tak enak-nya, sibuklah saya mengecek waktu. Sebentar-sebentar saya tanya jam, lalu segera panik begitu jam menunjuk angka empat pagi, padahal katanya baru separuh jalan. Jadilah sibuk saya meminta maaf, lalu terkadang mengusir para relawan baik hati sedari tadi sibuk menunggu untuk lebih dulu berjalan, melihat blue fire idaman yang katanya cuma ada dua tempat di dunia Islandia dan Banyuwangi, Indonesia. Antisipasi kalau-kalau, waktu tidak memungkinkan dan akhirnya mereka gagal sampai tepat waktu. 4. Apa pun Kondisinya, Selalu Ada Cara Untuk Membuat Diri Termotivasi Pukul lima kurang seperempatâmakin paniklah saya. Orang yang bersama saya, tinggal satu orang. Sisanya menghilang. Tak lama, seorang pengangkut belerang berjalan sejajar. Iseng, saya bertanya tentang seberapa jauh perjalanan. âWah, tinggal sebentar lagi kok, Mbak. Paling lima belas sampai setengah jam lagi,â katanya enteng. âOh,â jawab saya pendek, sependek-pendeknya, lalu tiba-tiba merutuki kebodohan saya yang punya prinsip nggak lagi-lagi bertanya sama orang lokal. Jawabannya pasti âdekatâ, âsebentar lagiâ, padahal jauhnya bisa nggak ketulungan. Tetapi rasa pesimis saya mendadak kalah saat saya tanya bapak pengangkut belerang tentang bobot belerang yang biasanya ia bawa. âIni cuma tiga puluh kilo, Mbak. Biasanya, bisa enam puluh sampai delapan puluh kilo,â katanya santai. Saya langsung kaget. Tiga puluh kilo itu setara bobot adik kecil saya dua tahun lalu. Dalam sehari, mereka bisa bolak-balik, naik-turun hingga 3-4 kali. Karenanya, saya pun termotivasi untuk berjalan cepat-cepat. Semakin cepat, semakin baik. 5. Terkadang, Apa yang Ingin Kita Capai Tak Selamanya Muncul Utuh di Depan Mata, Bila Tidak Ikhlaskanlah. Selalu Ada Sisi Baik yang Bisa Diambil dari Setiap Hal Kira-kira pukul setengah enam pagi, sampailah saya di puncak. Hawa dingin langsung menusuk kulit, karena rupanya angin bertiup kencang sekali. Saya yang semula melepas segala perlengkapan dingin mulai dari kupluk dan sarung tangan, buru-buru mengenakannya lagi. Dari kejauhan seorang teman menghampiri saya. Ia masuk dalam kloter pertama, sudah pasti sampai lebih dahulu. Tetapi dengan raut wajah kecewa ia melenyapkan antusiasme saya. âBlue fire-nya kecil banget, kayak api kompor.â âOh, yasudahlah, mau gimana lagi?â Saya yang sudah lemas, makin lemas. Seorang teman menghibur. âYasudah, kita bisa keliling-keliling dulu. Bagus banget, nih.â Sebuah kawah berwarna hijau-kebiruan terbentang luas di hadapan saya. Asap putih menyembul dari permukaannya. Orang bilang pakailah masker, belerangnya sangat menusuk. Tetapi, sedikit buntung di awal ternyata berbuah untung. Bau belerang yang menusuk ini tidak punya efek pada hidung saya yang banal, karena mampet sedari awal. Maka saya pun buru-buru sibuk naik undakan-undakan khas gunung yang mengitari saya, demi pemandangan indah dan berbeda dari ketinggian, sementara di sekeliling sibuk melakukan gerakan cepat mencopot masker saat berfoto, lalu buru-buru memakainya karena tidak tahan bau belerang. 6. Seberapapun Jauh Kamu Melangkah, Akan Selalu Ada Tangan-tangan Tak Terlihat yang Menjagamu Kira-kira pukul tujuh, saya memutuskan untuk turun. Pertama karena tidak tahan dingin. Kedua karena Matahari sudah cukup menyengat. Ketiga karena sudah puas. Rute turun, sama dengan rute naik. Hanya saja, saya cukup kaget saat tahu, jalur naik-turun ternyata tidak cukup luas, sementara jurang dalam dan lebar menganga di sebelah kiri. Rasa was-was kembali menyergap sebab saya jadi teringat, bahwa sejak pendakian, rupanya saya cenderung duduk istirahat di bebatuan atau gundukan kecil di bibir jurang. Kondisi gelap di awal pendakian membuat saya pikir perjalanan bakal aman-aman saja. Keberuntungan ke sekian hari ini. Cukup menyelamatkan bagi sayaâpejalan super pemula yang lalai, merasa sudah cukup, lalu cenderung meremehkan. Bagaimana seandainya saya tidak hati-hati? Bagaimana jika di tengah jalan napas saya habis, di saat teman sekelompok justru meninggalkan? Semua pertanyaan itu membuat saya berpikir dan tersentil di tengah-tengah jalan turun. Dalam sebuah perjalanan naik dan turun gunung wisata yang sering kali terlihat remeh, dalam sebuah perjalanan hitungan dua-tiga jam, rupanya saya telah diingatkan. Semesta itu besar, ia luas dan tak berbatas. Sementara kita manusia, cuma berdiri kecil di tengah-tengahnya. Seperti debu yang bisa hilang dalam satu kibasan tangan, siapa kita berani merusak, lalu menantang angkuh seolah jadi yang paling kuat? 7. Alam Indonesia Memang Indah, Ironis Bila Justru Orang Luar yang Peduli Akan Hal Itu Foto oleh Claire Andre Peringatan selanjutnya muncul. Belum lama berjalan, pundak orang yang berjalan sejajar dengan saya, ditepuk dari belakangnya. Seorang pria bule, dengan nada sedikit marah, mencoba mengingatkan. Rupanya, orang itu baru membuang begitu saja satu botol air mineral yang sudah kosong isinya ke satu sisi jalan. Bule itu marah, lalu menyuruhnya memungut kembali sampahnya. Suatu hal yang cukup memalukan, mengingat orang lokal baru saja diingatkan oleh orang luar yang notabene, tidak memiliki suatu hubungan pun dengan alam Indonesia. Saya menengok. Orang itu berbicara kepada salah satu temannya ia pikir itu tempat sampah, sebab ada sampah serupa di sana. Tak jauh dari tempat ia membuang sampah, beberapa mural bertulis nama, inisial, hingga ucapan selamat menghiasi batu-batu besar di sisi kanan jalan. Saya membayangkan, si pria bule pastilah mengamuk jika melihat ini. Ya, ironis memang. Pria bule. Bukan orang Indonesia. 8. Jangan Meremehkan Alam Naik susah, turun pun susah. Sama seperti kemiringan tanah lumayan curam yang sanggup membuat detak jantung lebih cepat dan napas ngos-ngosan, turun dari Ijen tak bisa dianggap remeh. Seperti jalur naik yang terus menerus menanjak, bisa dibayangkan bagaimana jalur turunnya. Sebuah jalan setapak, di mana pengunjung harus benar-benar melewati turunan dari awal hingga akhir. Tak jarang, karena merasa lelah sekaligus menyiasati rasa lelah karena kaki jelas menjadi tumpuan badan, saya melihat banyak orang memilih berlari dengan risiko menabrak pohon atau justru jatuh berguling karena tidak mampu ângeremâ. Alhasil, kurang lebih dua jam perjalanan turun, telapak kaki, betis, dan lutut pun dibuat nyeri. Belum lagi panas menyengat yang rasa-rasanya membakar wajah. *** Sekitar pukul sembilan malam, akhirnya elf yang saya tumpangi sampai di rumah. Sehabis mandi dan bersih-bersih, saya menenggak satu tablet obat flu lalu tidur sepuasnya. Percayalah, dua hari setelahnya saya juga terpaksa beristirahat karena sakit dan menunda niat pelesiran saya sekian jenak. Kapok? Tentu saja tidak. Tapi yang jelas, saya akan persiapan dengan baik, dan jauh lebih berhati-hati di perjalanan berikutnya. *Tambahan Setelah agak sehat, sebetulnya saya sangat penasaran mengapa saya tidak bisa melihat blue fire yang sempurna. Setelah googling dan bertanya sana-sini, barulah saya mengerti, blue fire hanya bisa dilihat di malam hari, di mana pengunjung seharusnya sudah mendaki sejak pukul WIB. Tidak disarankan pula mengunjungi Ijen saat musim penghujan, selain nyalanya lebih terang saat musim kemarau, juga cukup rawan karena Kawah Ijen kerap kali mengelurkan gas beracun saat musim penghujan. Setelah mengetahui informasi ini, harus diakui saya sedikit menyesal karena mendadak memutuskan ikut trip tanpa persiapan. Blunder yang ke-sekian kalinya. Tapi ya sudahlah. Yang terpenting, selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Toh, pergi ke suatu tempat bukan hanya tentang mengeksplorasi yang indah-indah saja, bukan? REKOMENDASI ARTIKEL KEREN PALING BARU